Gunung Hawu : Surga Para Hammocker

gunung hawu, hammocker
"Benarkah Gunung Hawu adalah surga para hammocker ?"

Menyebutnya sebagai surga, menurut saya gaya bahasanya terlalu hyperbola, kesannya terlalu alay. Adalah komunitas pemerhati lingkungan setempat, Suku Badot yang mengkampanyekan Gunung Hawu sebagai taman bermain. Tolong dicatat! Taman bermain untuk semua - bukan surga para hammocker.

Sekitar setahun lewat beberapa bulan yang lalu, untuk pertama kalinya saya ke Gunung Hawu bersama komunitas satu bumi - sabuki. Diam-diam saya jatuh cinta sama Gunung Hawu. Mulai dari saat itulah saya kemudian termotivasi mendaki gunung-gunung yang lainnya.

Kali kedua ke Gunung Hawu bersama KUJ, pada hari Mingu 17 April yang lalu. Mau tidak mau, saya membandingkan suasana Gunung Hawu dari pengalaman pertama dengan keadaan sekarang. Tapi apa yang saya dapatkan di sana, membuat saya jadi heran.

Apakah semua itu cuma perasaan saya saja? Saya tidak mendapatkan perasaan takjub yang sama. Kemana perginya Gunung Hawu yang dulu? Perasaan ini persis seperti saat kita bertemu dengan mantan. Dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa dulu kita bisa sampai menyukainya.

Gunung Hawu ternyata sudah tidak seindah dulu lagi.

Fakta! Atau....jangan-jangan cuma perasaan saya sendiri yang sudah berubah.

Berkontemplasi di Gunung Hawu

gunung hawu, hammocker
Saya berkontemplasi di Gunung Hawu. Melihat ke dalam diri saya sendiri,  mengorek lebih dalam untuk mencari jawaban. Kenapa harus ada emosi meletup seperti balon ditusuk peniti.

Ada tiga monster biru bertangan baja sedang  mencari nafkah dengan merobohkan bukit-bukit di Gunung Hawu. Mengaruk bebatuan serta membawanya turun menuju pabrik. Tugas monster biru adalah menyuapi mulut-mulut pabrik yang tak kunjung kenyang dikasih makan. Batu bernilai tinggi disulap menjadi marmer, sisanya dibuat jadi bahan bangunan.

Dan bila sang pabrik puas, dia akan mengepulkan napas asap hitam bergulung-gulung ke atas langit. Semakin banyak makanan yang diterimanya, semakin banyak pula asap tebal hitam yang dimuntahkannya di Gunung Hawu.

Saya benar-benar khawatir.

Beberapa meter menjelang puncak Gunung Hawu, saya ketemu monster biru yang sama di sana. Dulu untuk mencapai lokasi tersebut saya menjadi ngos-er alias ngos-ngos-an.  Sekarang sudah bisa memacu motor sampai ke atas dan parkir motor di lokasi. Ada setapak yang dibuat menuju puncak. Tidak usah menebas semak pula. Senangnya!!! Sekarang, siapa pun bisa ke Gunung Hawu tanpa harus jadi ngos-er.

Ada kemajuan, euy!!!

Bekas galian monster biru terlihat semakin lebar dan dalam. Setelah para monster selesai menjalankan tugasnya di Gunung Hawu dan pindah ke lokasi lain. Bekas galian tersebut, menurut saya bisa dijadiin kolam rendam dengan air warna-warni tak alami. Bagian yang lebih rata bisa dibangun berbagai sarana penunjang wisata. Menara selfie - misalnya??? Tentu Gunung Hawu akan semakin banyak dikunjungi orang.

Setelah dipikir, jangan-jangan saya terlalu banyak berprasangka buruk. Siapa tahu para monster dan juragan pabrik itu justru sedang membantu kita untuk menciptakan tempat wisata baru buat orang-orang yang kurang liburan seperti saya.

Jangan Benci Para Hammocker


gunung hawu

Saya tidak suka kepada diri saya sendiri. Karena telah membiarkan diri saya ikut-ikutan bergelantungan seperti sun-gokong pada acara gabungan KUJ dan Suku Badot di Guwung Hawu. Acara komunitas tersebut untuk mengugah kesadaran kita agar turut serta berperan aktif menjaga kelestarian alam.

Tapi....
Jujur, saya ikut hanya karena ingin pamer di medsos saja. Bergelantungan di udara dan bergaya tiduran di hammock yang memang lagi happening. Saya harus mencobanya. Kemudian photo-photo dengan berbagai tagar seolah-olah saya telah turut menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Kenyataannya....
Saya cuma mau pamer dan posting di medsos untuk panen komen dan like saja. Kemudian, kalau ada yang sirik melihat photo saya maka tujuan saya tercapai. Memikirkannya saja sudah membuat saya merasa seperti seorang pelacur.

gunung hawu

Sungguh sebuah ironi.

Salah satu tebing, lihat photo di atas, pada bagian puncak kanan tebing dibelah tegak lurus ke bawah. Di bekas potongan tersebut kita bisa melihat gua vertikal Gua Gunung Hawu yang terkenal itu. Dulu, hal itu mustahil dilakukan karena  mengintip dari ujung tebing sangat berbahaya.

Sekarang dari posisi tersebut kita bisa melihat gua vertikal tersebut dengan sempurna.  Semua berkat tebing yang sengaja dipapas agar kita lebih leluasa berphoto dengan aman.

Bebatuan di ketiga puncak tebing juga telah dimodifikasi sedemikian rupa, dibor  sehingga carabiner terpasang permanen di sana. Tujuannya tentu saja agar bisa membentangkan tali karmantel yang berfungsi sebagai hanger dari puncak satu ke puncak lainnya.

Di hanger tersebut dipasanglah hammock-hammock. Untuk  menikmati sensasi ber-hammock-an di udara, serta mendukung kegiatan komunitas tersebut, silakan menghubungi langsung komunitas suku badot untuk mengetahui jadwal kegiatan mereka.
gunung hawu
Karena kecewa melihat kondisi Gunung Hawu sekarang, tercetus keluar kata bahwa apa yang saya lakukan dengan ber-hammock gantung di Gunung Hawu tak jauh berbeda dengan para monster biru. Kita sama-sama merusak alam walau dengan cara yang berbeda.

Disitulah ironinya. Di satu pihak kita ingin mempertahankan keasrian alam, di lain pihak kita mengundang banyak orang yang tak bertanggungjawab untuk datang berbondong-bondong ke sana. Dan merusaknya atas nama kegiatan wisata.

Saya sangat menghargai berbagai upaya kampanye berbagai komunitas - tapi itulah yang saya rasakan saat itu.

Gunung Hawu, surga para hammocker asli --- yang cuma ikut-ikutan mau numpang keren, silakan bergabung sama monster biru.

Note : update 03/05
tulisan bagian ini  sengaja saya highlight warna kuning -- penggunaan kata KITA lebih tepat  diganti dengan kata SAYA / AKU....karena tulisan ini sebenarnya merupakan self-corection terhadap pribadi saya sendiri. Tidak ada maksud lain -- jadi bagian tulisan ini tetap saya biarkan apa adanya.

* penggunaan kata papas ternyata juga tidak tepat.
* penulisan awal mencantumkan harga donasi yang digalang oleh KUJ adalah Rp 35rb adalah salah,  yang benar adalah   Rp 15rb.  

3 Responses to "Gunung Hawu : Surga Para Hammocker"

  1. boleh saran gak? menurut hemat saya kalo saudara bikin tulisan ada baiknya kroscek dulu, hindari bikin tulisan asal nulis. Kroscek dulu, jangan bikin tafsiran sendiri.

    Misalnya tentang batu rata yang dipapas. Itu dipapas hingga rata, bukan buat kepentingan wisata. Perlu kamu ketahui di puncak hawu itu bekas ditambang, dan batu rata yg km potret itu bekas digergaji oleh pengusaha tambang. Bukan dipapas biar kita leluasa liat lubang hawu.ITU BEKAS DITAMBANG!!

    Itu baru satu point yang saya luruskan. Kalo km merasa belum puas silahkan datang ke tempat kami, dan kita berdiskusi sekalian kami genapi pengetahuan km yang minimalis itu. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. setelah saya baca ulang --- saya mengerti mungkin ada kalimat yang mengandung makna ambigu sehingga memberikan tafsiran berbeda. Jika Bapak merasa bahwa saya telah menyudutkan secara sepihak dan menulis hal negatif mengenai komunitas suku badot --- saya benar-benar minta maaf.

      Apa yang saya tulis adalah berdasarkan penafsiran pribadi dan apa yang saya rasakan saat itu. Saya akui saya punya kecenderungan untuk menulis hal-hal yang bersikap ironi dan sengaja mengambil sudut penulisan yang berbeda. Seperti yang dikatakan, ini cuma penafsiran pribadi.

      Saya percaya, sebuah penafsiran bisa didasarkan pada pengalaman : bisa karena 'ketidaktahuan', bisa juga karena sok tahu? Hal ini terjadi sama saya. Dan saya tidak malu untuk mengakui itu bahwa saya harus banyak belajar.

      Terima kasih telah turut memperbaiki tulisan dengan komennya. Saya benar-benar menghargainya.

      Delete