Enteng Jodoh di Curug Sawer Cililin

curug sawer cililin bandung

Seharusnya saya tidak ikut ke Curug Sawer Cililin hari itu

Sehari sebelumnya, Sabtu 20/02/16, saya menyumbang 100cc darah lebih banyak dari biasanya. Saya tahu, seharusnya tidak melakukan itu karena keesokannya saya ada acara ke Curug Sawer bersama komunitas ulin Jarambah ( KUJ ). Alih-alih beristirahat, saya malahan ikut acara bedah buku di cafe Jadul bersama Aleut dan begadang sampai jam 11 malam.

Subuh hari Minggu, hujan yang turun entah sejak kapan tidak juga berhenti. Si penguasa rumah mulai wanti-wanti. Pagi itulah saya merasa tak seharusnya saya pergi. Namun  saya bilang, saya bisa jaga diri.

Curug Sawer terletak di desa Karang Tanjung - Cililin memiliki beberapa air terjun bertingkat. Untuk mencapai lokasi curug, dari terminal Leuwipanjang naik bus Madona, dari daerah Cibiru bisa naik Kotrima. Kalau motoran dari Cimahi bisa mengambil arah ke Cimareme menuju Batujajar. Patokannya adalah SMA Negeri 1 Cililin.

Disebut Curug Sawer, konon cerita pernah ada putri dan pangeran mengadakan acara saweran di curug tersebut. Siapa sang putri atau siapa nama pangeran tidak ada penjelasan lebih lanjut. Saya juga tidak menemukan catatan online pernah ada kerajaan di sekitar Cililin. Namun penduduk setempat percaya kalau mandi di curug tersebut bisa enteng jodoh.
bekas gedung stasiun radio
"Stasiun radio NIROM Cililin  (Nederlandsch-Indische Radio-omroepmaatschappij) 1908-1916 dirintis oleh Raymond Sircke Hessilken dengan membebaskan lahan tanah seluas 17 hektar yang  kemudian ditambah lagi sekitar 10 hektar. Namun ternyata stasiun ini kurang berfungsi dengan baik karena dikelilingi lembah sehingga dibiarkan terlantar. Stasiun radio kemudian dipindahkan ke Gunung Puntang." Photo diatas merupakan koleksi : Rudy Praja



Seharusnya saya tidak ikut ke Curug Sawer Cililin hari itu.

Tiba di gedung SMA Neg.1 Cicilin, saya merasa bersemangat dan tak sabaran untuk segera memulai perjalanan menuju curug. Saya tidak sadar beberapa insiden memalukan akan segera menyusul. Ah, memang seharusnya saya tidak memaksakan diri kalau kurang fit.

Bangunan sekolah SMAN 1 Cililin itu ternyata adalah bekas rangkaian bangunan dari stasiun NIRON yang telah beralih fungsi menjadi sekolah. Sedangkan bangunan utama yang berfungsi sebagai stasiun radio hanya berjarak beberapa meter dari sekolah. Bangunan tersebut dalam kondisi kosong dan terlantar. Salah satu bangunan di samping  stasiun radio itu sendiri telah berubah menjadi kandang ayam dan entog. Sedangkan gerbang masuk Curug Sawer itu sendiri tidak jauh di bagian belakang gedung tersebut.

Menuju Bukit Gantole.
Bukan komunitas jarambah namanya kalau mencari jalan pintas termudah. Ceritanya biar sekali jalan dua tiga objek wisata dikunjungi. Maka kita pun mengambil jalan pintas terjauh dengan memutari Bukit Gantole menuju curug.
gantole cililin
venue gantole untuk PON XIX/2016, Kampung Cihurang, Desa Singajaya
Untuk mencapai lokasi venue dari SMAN 1 Cililin ambil arah ke Bandung. Ambil patokan pom bensin Managi, cari gerbang Desa Singajaya.  Terus saja ikuti jalan kecil menanjak ke atas sejauh 3 kilometer. 

Seharusnya saya tidak ikut ke Curug Sawer hari itu 

Bertiga bersama Rudy Praja dan Sidik memimpin jalan di depan. Jalan setapak beraspal mengular dan meliuk-liuk ke atas meninggalkan rumah penduduk. Kiri kanan hanya ada tumbuhan semak diselangi pohon satu dua.

Lima menit pertama saya masih bisa mengimbangi langkah mereka dan menimbrung pembicaraan. Menit berikutnya saya mulai keteteran bersamaan dengan semakin menanjaknya jalan setapak. Jalurnya stabil naik-naik dan naik terus. Tidak ada turunnya, apalagi bonus jalur rata untuk mengatur napas. Awalnya saya cuma ketinggalan lima meter di belakang, kemudian tercecer semakin jauh di belakang.
gantole cililin
jalur mengular ke atas
Rombongan dari belakang satu demi satu mulai menyusul. Tanpa saya sadari, posisi saya sudah berada paling belakang. Saya benar-benar kehabisan napas di kilometer pertama.

Sepuluh langkah disusul terduduk sekian menit dengan napas ngos-ngosan. Kepala mulai terasa ringan, keringat dingin besar-besar seperti bulir jagung. Dari batok kepala keringat mengucur tanpa halangan. Sesekali keringat itu singgah sebentar ke mata sehingga membuat perih. Dari ketek, keringat meluncur mulus sampai ujung jari dan keringat dari punggung membuat pantat terasa lembab.  

Kalau kamu menggira penderitaan ini sudah maksimal, maka saya bilang ini baru permulaan. Selain harus berjuang menahan supaya tidak  jack-pot alias muntah, saya juga tersiksa oleh gerakan peristaltik usus yang terus mendorong sesuatu agar keluar. Tentu saja saya tidak mau Kang Rudi, Mas Sidik cs terpana mendengar suara semilir angin sepoi-sepoi yang menerobos keluar dari pintu rahasia.
curug sawer
sungai citarum dari ketinggian
Pemandangan di kilometer mendekati puncak cukup ciamik. Titik-titik atap rumah kota Cimahi serta kotak-kotak hamparan hijau dilingkari sungai Citarum bagaikan  tataan batu mulia di atas gelang emas. Tapi, suerrr...saat itu saya sama sekali tidak bisa menikmatinya.

Selain berjuang supaya tubuh bagian atas dan bawah tidak bocor, masih ada insiden kecil. Celana coklat quick-dry hasil hunting ke Cimol Gedebage mulai memperlihatkan wujud aslinya.

Shitt...dah! Ternyata ritsleting celana bekerja dengan baik cuma untuk menjaga agar pusar dan 10cm ke bawah dari bagian tubuh saya yang paling tersembunyi tidak kepanasan dengan cara mempertontonkan isinya.
Zippernya celana itu terus menggangga seperti mulut ikan mujahir diangkat dari air. Bagaimana pun saya berusaha, zipper sialan itu tetap tidak mau menutup. Supaya tidak malu, saya mengakalinya dengan sering-sering menarik celana ke atas ( suka melorot ) dan  menarik ujung baju kaus saya semakin ke bawah. Tak lupa berdoa, semoga tidak ada seorang pun menyadari insiden tersebut.
curug sawer
landasan pacu gantole
Mendekati puncak gantole, saya berhasil mendekati rombongan terakhir dan di antara bisik-bisik saya menguping pembicaraan.

"Untung  si-H tidak ikut hari ini. Pasti lebih lama lagi."

Dan saya mendadak menjadi Om H yang paling merana saat itu. Saya akui karena saya, perjalanan kali ini jadi lebih lama.  Untung ada Kang Rudy dan Mas Sidik dan teman-teman yang sabar menunggu selama perjalanan.

Mungkin karena perkataan tersebut jadi obat, semangat saya muncul kembali. Sambil menarik celana ke atas ( ingat, suka melorot ) dan menarik ujung kaus ke bawah ( ingat, ritsleting tak berfungsi ) saya bilang, " Hayuk kita makan."

Akhirnya berhasil sampai juga.

Aneh memang. Tiba-tiba saya merasa lapar. Perut tidak terasa mengganggu lagi. Mungkin angin perut sudah berhasil keluar tanpa saya sadari. Tiba-tiba saja merasa sehat!
curug sawer cililin
enteng jodoh
catatan kaki :
saat turun ke Curug Sawer dari puncak bukit gantole, jalurnya sempit dan menurun cukup tajam. Seimbanglah dengan track awal yang cukup tajam. Secara pribadi, kalau kondisi tubuh sedang fit track ini mungkin bisa dilakukan sebagai pemanasan sebelum muncak ke gunung.

0 Response to "Enteng Jodoh di Curug Sawer Cililin"

Post a Comment