Museum Barli : Belajar Mengapresiasi Seni Lukis

Museum Barli
Ada satu pertanyaan yang muncul di benak saya saat melangkah masuk ke museum Barli - Bandung beberapa waktu yang lalu ( 24/01/16). 

"Bagaimana caranya mengapresiasi sebuah karya seni lukis?"

Seni lukis memiliki banyak aliran sehingga untuk mengapresiasikannya pun berbeda. Untuk gaya realis kita melihat nilai estetika lukisannya melalui komposisi warna, sudut pandang, perspektif, demensi dan lain-lain. Untuk aliran lain ada pakem tertentu yang dipakai. Susahnya tidak ada pakem yang bersifat universal untuk semua aliran seni lukis.

Untuk menjawab masalah itu, salah seorang teman memberi trik singkat untuk mengapresiasi seni lukis di museum Barli. Katanya, "Secara umum semua aliran seni bisa digolongkan menjadi tiga aliran seperti yang terdapat pada tiga tingkatan alam pada bangunan Candi Borobudur."

Tingkat dasar disebut alam kamadatu atau alam hasrat. Aliran paling dasar bisa disebut sebagai seni lukis purba, tanpa perspektif dan bersifat dua demensi. Contohnya : lukisan dinding pada gua jaman dulu, atau lukisan yang dilakukan anak kecil.

Setelah meninggalkan alam kamadatu yang bersifat purbatik, aliran selanjutnya adalah aliran realis / naturalis yang mengagungkan keindahan bentuk fisik seperti terdapat pada alam rupadatu candi Borobudur.

Tingkat tertinggi yang meninggalkan bentuk fisik sebuah objek dalam seni lukis terdapat aliran ekpresionis / abstrak. Arupadatu. Pada tingkat ini untuk mengapresiasinya kita dituntut untuk berpikir di luar pakem.
museum barli
jangan dibuli : sedang mengapreasiasi hal yang lain
 Museum Barli buka setiap hari Selasa - Minggu dengan htm Rp 35,000 / orang. Bangunan museum terdiri dari tiga lantai dan setiap ruang diberi nama. Lantai dasar diberi nama sesuai nama putranya, Agung Wiwekaputra, yang berfungsi sebagai ruang diskusi dan pagelaran seni.

Ruang lantai satu disebut ruang Nakisbandiah, sedang bagian sayap bangunan disebut Chandra's gallery yang berfungsi sebagai ruang pameran. Naik satu tingkat akan membawa kita ke ruangpusat museum Barli.  Ruang Atikah, nama yang diambil dari isteri pertama Barli.

Bentuk ruang agak melingkar dan mendapat perhatian khusus. Di dalamnya terdapat koleksi pilihan Barli dan beberapa lukisan pelukis lainnya. Umumnya lukisan Barli beraliran realis / naturis dengan objek wanita. Diantara lukisan tersebut terdapat satu lukisan bergaya kubisme.


museum barli
ruang Atikah
sumber : museumbarli.com
Kubisme pada intinya adalah seni tu menciptakan bentuk-bentuk abstrak dan objek tiga demensi serta mempresentasikannya dalam berbagai bentuk bidang sehingga tampilan keseluruhannya seperti kubus.-kubus kecil.

Mengunjungi museum Barli rasanya seperti membuka diary kecil dan melihat perjalanan sang pelukis itu sendiri. Sayang, saat berada di museum, ada perasaan koleksi lukisan kurang lengkap -- ada yang hilang. Lukisan pada di awal karier sang pelukis cuma diwakili tiga sketsa.

Cara menuju Museum Barli : Kalau naik angkot, dari terminal Kebon Kalapa ambil jurusan Abd Muis - Ledeng ( warna hijau ) dan turun di Karangsetra. Dari Karangsetra cari angkot menuju Sarijadi dan turun di Indomaret dekat jalan Cipedes Tengah dan lanjutkan dengan jalan kaki. Sampai deh!

note : ada museum mainan di salah satu sayap bangunan museum Barli.

0 Response to "Museum Barli : Belajar Mengapresiasi Seni Lukis"

Post a Comment